Whatsapp-Admin

Wajah Baru Digital Tourism di Era Metaverse

Pendahuluan

Pada akhir bulan Oktober tahun 2021 yang lalu, pendiri sekaligus CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa perusahaannya yakni Facebook, Inc.,  telah resmi berganti nama menjadi Meta Platforms, Inc.[1] Perusahaan yang bergerak dalam layanan jejaring sosial tersebut tentunya tidak asal mengganti nama begitu saja, namun terdapat visi perubahan yang juga ikut serta dalam pergantian nama perusahaan tersebut. Pada tahun 2004 saat Facebook pertama kali diluncurkan, itulah saat dimana terjadi perubahan tentang bagaimana cara seseorang untuk terhubung dengan orang lain yang bahkan dapat melewati perjalanan lintas negara. Kini dengan bergantinya Facebook, Inc., menjadi Meta Platforms, Inc. (disingkat meta), telah menghadirkan visi baru yang masih berkaitan dengan menghubungkan orang-orang. Visi Meta saat ini adalah menghidupkan metaverse dan membantu orang-orang untuk saling terhubung, menemukan komunitas, dan mengembangkan bisnis.[2]

Visi meta yang paling menarik perhatian berbagai kalangan ialah adanya keinginan untuk membangun metaverse atau alam meta. Kata metaverse sendiri masih terasa asing bagi sebagian besar orang dan hal ini dibuktikan dengan meningkatnya pencarian kata metaverse secara pesat sejak bulan oktober yang lalu apabila dilihat statistiknya melalui Google Trends.[3] Mark Zuckerberg selaku CEO Meta Platforms, Inc., sendiri mengartikan metaverse sebagai seperangkat ruang digital yang saling terhubung dan memungkinkan orang-orang untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukannya di dunia fisik.[4]

Salah satu sektor yang terkena dampak pandemi covid-19 secara signifikan adalah sektor pariwisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyebutkan bahwa terdapat penurunan pendapatan negara pada sektor pariwisata sebesar Rp20,7 miliar yang disebabkan oleh adanya pembatasan sosial berskala besar dan ditutupnya akses keluar-masuk Indonesia akibat pandemi covid-19.[5] Salah satu langkah yang dilakukan oleh Kemenparekraf dalam mengatasi permasalahan sektor pariwisata ini adalah dengan menggencarkan promosi destinasi wisata sebagai persiapan destinasi wisatawan setelah pandemi mereda/berakhir. Promosi destinasi wisata ini dilakukan dengan menggunakan digital tour, salah satunya melalui platform YouTube di channel Pesona Indonesia yang telah menyediakan 10 destinasi wisata yang sifatnya digital/virtual.[6] Kelemahan metode ini terletak pada kurang bebasnya calon wisatawan dalam mengeksplorasi lokasi destinasi wisata secara menyeluruh, apa yang ditampilkan oleh pihak pengelola destinasi maka itulah yang akan disaksikan oleh wisatawan virtual, untuk itu diperlukan pembaruan atau upgrade digital tourism ini agar penerapannya lebih maksimal, dalam artian seorang wisatawan dapat mengeksplorasi destinasi wisatanya sendiri meskipun tanpa harus mengunjungi destinasi wisata.

Pembahasan

Era metaverse

Dalam suatu artikel ilmiah yang berjudul “All One Needs to Know about Metaverse: A Complete Survey on Technological Singularity, Virtual Ecosystem, and Research Agenda” yang ditulis oleh Lik-Hang Lee, dkk., telah dikaji dengan sangat terperinci mengenai dunia metaverse ini, mulai dari konsep metaverse hingga langkah-langkah yang sifatnya teknis mengenai penciptaan dunia metaverse. Pada awalnya, metaverse hanyalah merupakan suatu cerita dimana terdapat dunia virtual yang bersifat paralel dengan dunia nyata dalam novel fiksi ilmiah dengan judul “Snow Crash” yang dikarang oleh Neal Stephenson pada tahun 1992.[7] Akan tetapi, berkat semakin berkembangnya teknologi maka dunia metaverse dapat benar-benar diwujudkan di kehidupan sehari-hari. Setidaknya diperlukan dua teknologi untuk menginisiasi metaverse, yakni teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). VR membuat pengguna mampu berinteraksi dengan objek-objek virtual di dunia virtual menggunakan alat yang bernama headset VR, sedangkan AR membuat pengguna dapat berinteraksi dengan objek-objek virtual di dunia nyata yang dapat diakses melalui aplikasi di smartphone.[8]

Metaverse akan mengubah konsep digital tourism

Saat ini, digital tourism dipahami sebagai strategi efektif dalam mengenalkan, mempromosikan dan menyebarluaskan suatu destinasi wisata dengan tujuan menarik wisatawan untuk berkunjung ke destinasi wisata tersebut.[9] Digital tourism ini berguna dalam mempromosikan potensi unggulan suatu daerah melalui platform berbasis teknologi dengan target generasi milenial.[10] Platform yang umumnya digunakan dalam mempromosikan suatu destinasi wisata diantaranya adalah Instagram, Tiktok, Facebook, dan YouTube. Strategi promosi yang digunakan pun beragam, mulai dari menampilkan informasi disertai foto-foto destinasi wisata hingga menggunakan konten yang berbasis audio-visual yang lebih menarik minat calon wisatawan.

Kehadiran metaverse akan mengubah konsep digital tourism. Digital tourism yang saat ini masih mengusung konsep strategi promosi suatu destinasi wisata akan berubah menjadi destinasi wisata virtual yang nyata berkat adanya metaverse ini. Wisatawan akan dapat menjelajahi suatu destinasi wisata tanpa meninggalkan tempat tinggalnya. Menjelajahi yang dimaksud disini bukan hanya sebatas melihat penampakan dari destinasi wisata yang dituju saja, akan tetapi lebih dari pada itu, wisatawan juga mampu merasakan secara nyata situasi dan kondisi yang terjadi karena memang pada dasarnya dunia metaverse adalah dunia yang memberikan pengalaman nyata kepada penggunanya.

Tren digital tourism pada era metaverse

Teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) terus menerus dikembangkan hingga saat ini. Kehadiran meta sebagai pengganti facebook juga turut ikut berperan serta dalam perkembangan kedua teknologi tersebut karena memang pada dasarnya teknologi VR dan AR merupakan alat untuk tersambung ke dalam dunia metaverse. Seiring dengan berkembangnya teknologi VR dan AR, para developer atau pengembang pun juga turut saling berkerjasama atau berkompetisi dengan pengembang lainnya dalam mengembangkan dunia metaverse.

Generasi muda sekarang ini sudah tidak asing lagi dengan banyaknya teknologi yang hadir dalam kehidupannya dan generasi muda ini akan dengan mudahnya mengoperasikan suatu teknologi meskipun tanpa adanya panduan teknis sekalipun. Generasi muda juga akan cenderung untuk terobsesi dengan kemudahan yang diberikan oleh teknologi dimana teknologi ini pada dasarnya memang diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia. Misalnya saja kehadiran ponsel pintar (smartphone) telah mendekatkan yang jauh dan yang telah dekat untuk terus menetap membuat generasi muda akan merasa kehilangan yang mendalam apabila dalam jangka waktu yang lama tidak mengakses ponsel pintarnya.

Kehadiran VR dan AR pada saat ini memang belum terlalu menampakkan kemudahan sehingga penggunaan VR dan AR belum terlalu menunjukkan penggunaan yang signifikan. Akan tetapi, kehadiran konsep metaverse yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan akan mengubah signifikansi penggunaan VR dan AR apabila dunia metaverse telah dibangun secara realistis. Kehadiran dunia metaverse tentunya akan lebih memudahkan kehidupan seseorang. Berbagai macam sektor kehidupan akan terpengaruh oleh kehadiran dunia ini, salah satunya adalah sektor pariwisata. Apabila destinasi wisata telah banyak dibangun di dunia metaverse maka akan memberikan bentuk wisata yang baru dan realistis tanpa bepergian langsung ke destinasi wisata aslinya dan dalam konsep lain destinasi wisata yang dibangun di dalam metaverse tidak mesti mengambil referensi dari destinasi wisata yang ada di dunia nyata, pengembang akan leluasa menciptakan destinasi wisata yang baru tanpa adanya kendala oleh lahan.  Menurut penulis, digital tourism dalam artian wisata di dunia digital atau virtual akan menjadi tren baru dalam dunia metaverse di masa depan.

Tantangan perkembangan digital tourism pada era metaverse di Indonesia

Tantangan terbesar dalam perkembangan digital tourism pada era metaverse di Indonesia adalah belum meratanya jaringan internet di Indonesia. Selain itu, jaringan internet pun masih lambat pada beberapa wilayah. Tentunya dalam mengakses dunia metaverse, akan membutuhkan internet yang terkoneksi dengan perangkat VR dan AR. Tantangan lainnya adalah mengenai biaya produksi destinasi wisata virtual di dunia metaverse. Dalam membangun suatu destinasi virtual, akan membutuhkan jasa developer yang biayanya mahal karena pembuatannya yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama. Selain jasa developer, pembiayaan juga diperuntukkan dalam membangun server sebagai lahan destinasi wisata virtual.

Kesimpulan

Metaverse merupakan suatu kehidupan virtual yang merupakan kembaran dari dunia nyata. Untuk mengakses dunia ini diperlukan beberapa perangkat teknologi seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). Kehadiran metaverse akan mengubah konsep digital tourism yang saat ini dimaknai sebagai suatu cara mempromosikan dan mengenalkan suatu destinasi wisata secara virtual menjadi destinasi wisata yang betul-betul dapat diakses dan dieksplorasi secara virtual. Kehadiran metaverse memudahkan seseorang untuk mengeksplorasi suatu destinasi wisata tanpa mengunjungi destinasi wisata secara langsung. Digital tourism ini akan menjadi tren baru pada era metaverse kelak. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh digital tourism pada era metaverse di Indonesia antara lain belum meratanya jaringan internet di Indonesia dan mahalnya biaya produksi digital tourism.

[1] Ibnu Kusno, ‘Facebook Inc Berubah Nama Menjadi Meta Sebagai Ambisi Program Metaverse’, Naratimes, 2021 <https://www.naratimes.com/teknologi/pr-1511581463/facebook-inc-berubah-nama-menjadi-meta-sebagai-ambisi-program-metaverse?page=all> [accessed 11 December 2021].

[2] Meta, ‘Introducing Meta: A Social Technology Company’, Meta, 2021 <https://about.fb.com/news/2021/10/facebook-company-is-now-meta/> [accessed 12 December 2021].

[3] ‘Metaverse’, Google Trends, 2021 <https://trends.google.com/trends/explore?date=today 5-y&q=metaverse> [accessed 12 December 2021].

[4] Meta, ‘Connect 2021: Our Vision for the Metaverse’, Meta, 2021 <https://tech.fb.com/connect-2021-our-vision-for-the-metaverse/> [accessed 12 December 2021].

[5] Kemenparekraf, ‘Tren Pariwisata Indonesia Di Tengah Pandemi’, Kemenparekraf, 2021 <https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Tren-Pariwisata-Indonesia-di-Tengah-Pandemi> [accessed 12 December 2021].

[6] Kemenparekraf RI, ‘Virtual Tour, Alternatif Berwisata Di Tengah Pandemi COVID-19’, Kemenparekraf, 2021 <https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Virtual-Tour%2C-Alternatif-Berwisata-di-Tengah-Pandemi-COVID_19> [accessed 18 December 2021].

[7] Lik-Hang LEE and others, ‘All One Needs to Know about Metaverse: A Complete Survey on Technological Singularity, Virtual Ecosystem, and Research Agenda’, JOURNAL OF LATEX CLASS FILES, 14.8 (2021).

[8] Yuwono Martha Dinata, ‘Beda AR Dan VR’, Universitas Ciputra, 2018 <https://informatika.uc.ac.id/id/2018/12/beda-ar-dan-vr/> [accessed 18 December 2021].

[9] Kemenparekraf RI, ‘Strategi Digital Tourism Dalam Menggaet Wisatawan’, Kemenparekraf, 2021 <https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Strategi-Digital-Tourism-dalam-Menggaet-Wisatawan> [accessed 11 December 2021].

[10] Leski Rizkinaswara, ‘Digital Tourism, Strategi Untuk Menarik Wisatawan Milenial’, Kominfo, 2019 <https://aptika.kominfo.go.id/2019/03/digital-tourism-strategi-untuk-menarik-wisatawan-milenial/> [accessed 11 December 2021].


Pesan Untuk Maba
Oleh: Muh. Ilham Jaya